Oleh
: Gamalel R.S
Pemimpin
atau dalam bahasa inggris di sebut Leader
ini berbeda dengan pemahaman Chief dalam
bahasa inggris, pemimpin belum tentu ketua dan ketua pun belum tentu bisa
menjadi pemimpin yang baik, pemimpin dalam pengertiannya menurut pancasila
bahwa pemimpin harus bersikap sebagai pengasuh yang mendorong, menuntun, dan
membimbing asuhannya. Dengan kata lain, beberapa asas utama dari kepemimpinan
Pancasila adalah:
a. Ing
Ngarsa Sung Tuladha: Pemimpin harus mampu dengan sifat dan perbuatannya
menjadikan dirinya pola anutan dan ikutan bagi orang – orang yang dipimpinnya.
b. Ing
Madya Mangun Karsa: Pemimpin harus mampu membangkitkan semangat berswakarsa dan
berkreasi pada orang – orang yang dibimbingnya.
c. Tut
Wuri Handayani: Pemimpin harus mampu mendorong orang–orang yang diasuhnya
berani berjalan di depan dan sanggup bertanggung jawab.
Kebanyakan
orang masih cenderung mengatakan bahwa pemimipin yang efektif mempunyai sifat
atau ciri-ciri tertentu yang sangat penting misalnya, kharisma, pandangan ke
depan, daya persuasi, dan intensitas. Dan memang, apabila kita berpikir tentang
pemimpin yang heroik seperti Napoleon, Washington, Lincoln, Churcill, Sukarno,
Jenderal Sudirman, dan sebagainya kita harus mengakui bahwa sifat-sifat seperti
itu melekat pada diri mereka dan telah mereka manfaatkan untuk mencapai tujuan
yang mereka inginkan.
Lalu
bagaimana pemimpin dalam islam ? Apakah islam mengajarkan mengenai menjadi
pemimpin ? Apakah antara pemimpin dan agama adalah suatu hal yang terpisah atau
malah tidak dapat terpisah ? Hal-hal inilah yang sebagai pemimpin harus
dikuasai agar dapat menjadi pemimpin di usia muda dan di idamkan oleh bangsa.
Islam
dalam ajarannya ternyata sangat jelas dan kongkrit bahwa semua manusia adalah
pemimpin, seperti yang di syariatkan dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 30 :
وَإِذْ
قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا
أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ
بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Yang Artinya :
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat:
"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi."
mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu
orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami
senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan
berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." [QS.al-Baqarah:30].
Dari
ajaran ajaran islam sebagai pemimpin yang tercantum dalam al-Qur’an dapat
ditarik beberapa hikmah bahwa seorang pemimpin dalam islam ialah :
a. Senantiasa
berbakti kepada Allah swt. dengan menaati perintah-Nya dan menjauhi
larangan-Nya.
b. Selalu
Menjunjung tinggi perdamaian dan persaudaraan.
c. Selalu
Menjaga dan melestarikan bumi dari kehidupan yang dapat merusak penghuninya.
d. Selalu
berkeinginan untuk meraih kehidupan yang lebih maju dengan cara yang baik dan
benar.
Setiap
manusia adalah pemimpin, minimal pemimpin terhadap seluruh metafisik dirinya.
Dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas segala
kepemimpinannya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam sabda Rasulullah Saw., yang
maknanya sebagai berikut :
“Ingatlah!
Setiap kamu adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban tentang
kepemimpinannya, seorang suami adalah pemimpin keluarganya dan ia akan dimintai
pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya, wanita adalah pemimpin bagi
kehidupan rumah tangga suami dan anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggung
jawaban tentang kepemimpinannya. Ingatlah! Bahwa kalian adalah sebagai pemimpin
dan akan dimintai pertanggung jawaban
tentang kepemimpinannya,” (Al-Hadits).
tentang kepemimpinannya,” (Al-Hadits).
Kemudian, dalam Islam seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin
yang memiliki sekurang- kurangnya 4 sifat dalam menjalankan kepemimpinannya,
yakni : Siddiq, Tabligh, Amanah dan Fathanah. Selain itu, juga dikenal ciri
pemimpin Islam dimana Nabi Saw pernah bersabda: “Pemimpin suatu kelompok adalah
pelayan kelompok tersebut.” Oleh sebab itu, pemimpin hendaklah ia melayani dan
bukan dilayani, serta menolong orang lain untuk maju.
Pemimpin dalam persyarikatan Muhammadiyah pun mengadopsi apa yang diajarkan oleh agama Islam karena Muhammadiyah adalah organisasi dakwah islam yang menggunakan ajaran islam yang sebenar-benarnya, sehingga pelaksanaan dalam kesehariannya pun harus sesuai dengan agama, karena agama adalah ruh dari manusia yang tidak dapat terlepaskan dari kegiatan apa pun. Perpanjangan tangan Muhammadiyah dalam melaksanakan dakwahnya adalah Amal Usaha dan Organisasi Otonom (ORTOM), Amal Usaha dalam Muhammadiyah salah satunya adalah Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM). Dalam menjalankan amanah organisasi, Amal Usaha harus selalu berlandaskan Islam sehingga dalam PTM di masukan lah al-Islam dan Kemuhamadiyahan sebagai dasar perguruan tinggi.
Pemimpin dalam persyarikatan Muhammadiyah pun mengadopsi apa yang diajarkan oleh agama Islam karena Muhammadiyah adalah organisasi dakwah islam yang menggunakan ajaran islam yang sebenar-benarnya, sehingga pelaksanaan dalam kesehariannya pun harus sesuai dengan agama, karena agama adalah ruh dari manusia yang tidak dapat terlepaskan dari kegiatan apa pun. Perpanjangan tangan Muhammadiyah dalam melaksanakan dakwahnya adalah Amal Usaha dan Organisasi Otonom (ORTOM), Amal Usaha dalam Muhammadiyah salah satunya adalah Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM). Dalam menjalankan amanah organisasi, Amal Usaha harus selalu berlandaskan Islam sehingga dalam PTM di masukan lah al-Islam dan Kemuhamadiyahan sebagai dasar perguruan tinggi.
Keunggulan dalam
PTM inilah yang menjadi daya tarik masyarakat karena Dharma perguruan tinggi
tidak hanya 3 (Pendidikan, Penelitian dan, Pengabdian Masyarakat) melainkan Catur
Dharma Perguruan Tinggi yaitu, Pengembangan ilmu pengetahuan, Penelitian, Pengabdian
pada masyarakat, Penguatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan yang bersumber pada Al
Qur'an dan As Sunnah. Penambahan dalam dharma perguruan tinggi ini merupakan
identitas utama mahasiswa Muhammadiyah sehingga dalam pergerakannya pun lebih
khas dari pada mahasiswa lainnya.
Karena
hal ini menjadi suatu kehususan yang harus dimiliki oleh mahasiswa
Muhammadiyah, maka pemimpin dalam lingkungan Muhammadiyah harus memiliki kemampuan
sebagai pemimpin yang diajarkan dalam Islam sehingga generasi penerusnya dapat
mencontoh dan melakukan seperti yang dilihat dan yang diajarkan kepadanya.
Dalam
akhir penulisan, penulis memberikan kesimpulan bahwa Persyarikatan Muhammadiyah
adalah Gerakan Dakwah Islam amar ma’ruf nahi munkar yang memiliki pemimpin
islam untuk mendidik para calon pemimpin islam dalam generasinya dalam rangka
mewujudkan Bangsa yang berkemajuan, beragama dan di Ridhoi oleh-Nya dengan cara
mengembalikan ajaran-ajaran kepada Rasulullah saw yang tidak pernah termakan
usia atau zaman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar